Hmm…Idealismemu,kaya apa??!

July 21, 2008 at 9:35 am (a litle words from a me)

Suatu ketika, sebutlah Ukhti Fulana….seorang akhwat yang tarbiyahnya baru seumur jagung (blom ade 3 taun), ikut dalam syuro kepanitiaan diDPRanya. Awalnya dia masih maklum dengan waktu dan tempat Syuro dilaksanakan, karena sebagian besar orang-orang yang aktif diDPRa memang kebanyakan jam kerjanya padat, jadi hanya bisa syuro pada malam hari. Tapi saat mengetahui betapa terlambatnya kehadiran hampir besar peserta syuronya, Ukhti Fulana mulai mengernyitkan dahi. Apalagi saat syuro berlangsung, tidak ada hijab yang membatasi antara Ikhwan dengan akhwat, bahkan tidak sehelai kain pun. Kontan sifat lugasnya langsung muncul, tanpa basa-basi lagi Ukhti Fulana langsung menanyakan pada salah satu peserta syuro akhwat mengenai hijab. ternyata, penjelasan jawaban dari temannya yang mengatakan, “yang penting hijab hati ukhti.” tidak semudah itu meyakinkan hatinya. Ukhti Fulana yang terbiasa menjaga pandangan terhadap lawan jenis saat dikampusnya, juga terbiasa terhalangi hijab saat syuro, sehingga bisa lebih leluasa mengemukakan pendapat, kurang memahami keadaan syuro saat itu.

Bagaimana jika iu adalah antum dan antuna sekalian? bagaimana sikap kalian, apakah pemahaman terhadap ilmu yang didapat akan mempengaruhi pendapat, sehingga bisa lebih memahami keadaan.
atau….Idealisme yang bagaimana yang kita punya?

Selayaknya sebuah kisah, semoga dapat diambil hikmah yang terkandung didalamnya. Seperti kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang Allah ingin kita untuk mengambil dan mempelajari Ibrohnya.

Any Comments????

4 Comments

  1. syarart said,

    Assalamu’alaikum

    Ana sependapat jikalau yang terpenting adalah hijab hati, tapi tak sependapat jikalau hijab yg berarti benar2 pembatas dilewatkan atau diabaikan. Karena bagaimana pun juga “Dari Mata bisa Turun ke hati”. Maka hijab hati harus di dahului dengan hijab pandangan, atau yg sering disebut dengan Ghodzul Bashor. Tapi, dalam kasus ini ana tidak bisa memvonis siapa yang benar dan salah. Karena semua harus di analisa terlbh dahulu. Sperti analisa tempat dll.
    Justru ana menyalahkan, kenapa syuro malam2 harus mengundang Akhwat, mana mulai syuronya telat pula. Ini harus diwaspadai dan harus diperhatikan oleh ikhwah yg mengadakan syuro tersebut.

    Af1. Klo bnyak kesalahan dalam tulisan ini.

    Wassalamu’alaikum.

  2. mochammadfriyo said,

    di bbrp DPRa yg saya prnh datangi, kebanyakan mmg tdk pakai hijab kalau syuro….tp saya rasa itu tdk di semua DPRa….

  3. kartiadie said,

    Wah.. ini memang lebih kepada makna idealism yang telah terpatri..

    saya lebih senang mengatakan syuro tanpa hijab ‘fisik’ sebagai pertemuan konvensional islami.. artinya, pertemuan dilakukan without hijab namun tetap memisahkan posisi akhwat dan ikhwan, sedangkan konvensional .. yah yg sering dilihat kalo rapat2 di partai lain, ato organisasi umum yang mencampuradukkan pria dan wanita. sedangkan syuro islami .. yah lengkap hijab, diawali pembacaan qur’an dan sebagainya sebagaimana LQ diadakan…

    Idealism yg mempertanyakan ‘why without hijab’ perlu diantisipasi dengan cermat, terlebih dipertanyakan oleh mereka yang baru ‘menghirup’ udara tarbiyah. Kenapa ? berbedaan ‘perilaku’ akan membuatnya mempertanyakan sebuah konsistensi .. mana yang benar dan salah.

    Oleh karenanya, perlu pula diberi penjelasan.. seperti apa sih hijab hati itu, kategori seperti apa sehingga seseorang sudah siap dengan hijab hati, situasi seperti apakah sehingga seseorang wajib ‘membentengi’ hatinya agar selalu terhijab dengan baik.

    Yah, penjelasan – penjelasan yang lebih bersifat dialog akan menebus segala keganjalan hati si fulanah tersebut sehingga tidak merubah hatinya menjadi apriori terhadap kenyataan yang ia lihat. Sikap kritis seperti ini sebaiknya jangan diberi alasan terbatas seperti itu.. tambah wawasannya untuk setiap kasus yang ia temui.

    Wallahu’alam

  4. youthemophilia said,

    respon yg bagus tuh dari ukhti fulanah itu..kalo ada yg kurang sreg,langsung aja komentar & kalo perlu depan forum. jadi mereka semua bisa lebih sadar akan maksud dari penggunaan hijab tersebut.
    and ana pikir hal seperti ini contohnya, tidak mempengaruhi seseorang u/ mengemukakan pendapatnya.kurang lebih juga setuju dg respon akh di atas.

    afwan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: